Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna
selalu di limpahkan
Untuk bekalku nanti
Setiap hari ku di bimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan ku ingat selalu
nasihat guruku
Terimakasihku guruku
Masih inget kan dengan lirik lagu di atas? Yupz, lagu khusus yang biasanya dinyayikan pas pesta perpisahan sekolah. Biasanya kalo yang nyanyi dan dengerinnya pake hati, pasti pada melo pake acara netesin air mata gitu. Hik, hiks…
Tapi kali ini bukan mau ngajakin koor nyanyi ataupun ngajak nangis berjamaah. Bukan, yuk kita bersama-sama memberikan ekspresi rasa terimakasih kepada guru-guru kita. Mungkin tidak selalu dengan pemberian materi, tapi ekspresi yang disampaikan dalam tulisan bisa mewakili rasa terimakasih kepada guru-guru kita.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
Sobat yang dirohmati Allah, tahu nggak kalo guru-guru kita punya hari nasional? Yee, kayaknya banyak yang nggak tau kalo ada hari guru nasional. Coba deh tanya ke guru-guru kita, atau bisa juga tanya ke tetangga kita yang guru, kapan hari guru nasional di Indonesia diperingati? Kalo mentok, biasanya yang paling handal ditanyai ya mbah google.
Tapi memang benar kayaknya kalo ditanyai kapan hari guru, pada nggak ngeh, soalnya memang hari guru ini tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional alias nggak ada tanggal merahnya di kalender. Plus lagi, ditetapkannya pada tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Jadi mungkin bisa dimaklumi kalo nggak sehafal hari raya idul fitri atau hari umat beragama yang lain. Beda kalo misalnya, tanggal 5 Oktober, atau 10 Nopember, pasti sudah hafal kan itu hari apa? Duh, masih nggak hafal juga ya hari apa itu? Yawislah, kalo pada nggak hafal, itu namanya TER-LA-LU.
Betewe, back to topic. Mungkin sejak tahun 1994 setiap tahun tangggal 25 November sudah diperingati hari guru, bentuk rasa terimakasih apa yang sudah kita berikan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa ini? Pahlawan yang gambarannya kurang lebih seperti dilukiskan dalam lagu diatas tadi. Beliau-beliau telah memberikan ilmunya yang bermanfaat kepada kita, semenjak kita di bangku play group sampe mungkin ketika kita kuliah. Terlepas dari karakter masing-masing guru, sampe kita pernah menjulukinya sebagai guru killer, tapi mereka tetap guru kita.
Sobat, pernah kebayang nggak dalam benakmu, kita yang mungkin pernah dimarahi atau mungkin ada yang pernah dijewer telinganya oleh guru-guru kita, tapi ketahuilah mereka sosok yang kadangkala mencintai, mengasihi bahkan mengasuh kita melebihi mereka mengasuh anak-anak mereka sendiri. Guru yang sekaligus orang tua hampir semuanya akan melakukan hal seperti itu. Mereka rela meninggalkan rumah, meninggalkan anak-anaknya, apalagi bagi yang ibu-ibu, tapi memilih profesi tanpa tanda jasa itu untuk mendidik kita. Hups…jadi terharu membayangkannya.
Nah, sebegitu besar jasa mereka kepada kita, maka pantaslah kalo disebut pahlawan. Lalu, apa yang bisa kita berikan untuk membalasnya? Apakah mereka tetap pahlawan tanpa tanda jasa? Kalo bicara balas jasa yang bisa ngasih imbalan berupa materi ya pihak sekolah sendiri dan utamanya juga pemerintah yang ‘mempekerjakan’ mereka.
Bagaimana selama ini penghargaan jasa guru yang sudah diberikan oleh pemerintah? Sebagai perbandingan bisa dilihat bagaimana sejarah mencatat di masa khilafah Islam. Rasulullah saw. memerintahkan dalam haditsnya: “Seorang Imam (khalifah/ kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau saw. menetapkan agar para tawanan perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Menurut hukum Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Maal (kas negara).
Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 30an juta rupiah dengan kurs sekarang).
Mulianya Seorang Guru
Menjadi guru adalah profesi mulia, sebagaimana mulianya kedudukan Ilmu dan para pencari ilmu dalam pandangan Islam. Banyak argument dalil mengenai kedudukan yang mulia bagi orang yang berilmu. Are u ready? Sok etatah…
Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia. Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan. Allah Ta’ala berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)
Kedua, ilmu adalah warisan para Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Dan sabda Beliau Saw yang lain: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi)
Ketiga, orang yang berilmu yang akan mendapatkan seluruh kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, menuntut ilmu atau mempunyai ilmu dan kemudian disebarkan adalah investasi tiada merugi. Coba perhatikan sabda Rasulullah Saw:
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim)
Kelima, menuntut ilmu sebagai kewajiban. Rasulullah Saw menyampaikan hadits: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Well, apa benang merah yang bisa kita ambil dari uraian betapa mulianya ilmu dan para pencari ilmu? Yes, sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu maka kita harus hormati guru atau “mantan” guru kita, karena dari beliaulah kita mendapatkan ilmu dan kemuliaan tersebut. Meskipun sekali lagi, ada oknum guru yang berbuat keburukan mencoreng profesi mulia sebagai guru, yang kita baca dan saksikan beritanya di media, bukan menafikan kasus-kasus tersebut, kita tetap muliakan para guru kita.
Sebagai bentuk ‘colekan’, buat murid dan juga guru, Imam Syafi’i pernah menyampaikan “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” Gejlig! Ada yang merasa tertuduh nggak?
Sobat, baik yang merasa tertuduh atau nggak dengan perkataan Imam Syafii di atas, tapi yang jelas kita semua tertohok dengan perkataan beliau. Dan Imam Syafi’i tidak hanya berkata, tapi beliau membuktikan perkataannya pada dirinya sendiri. Coba bacalah sejarah tentang pemuda syafii, dia menggadaikan masa kecilnya untuk mencari ilmu. Berguru kepada para ahli ilmu, salah satunya Imam Maliki. Hasilnya? Pada umur belia, Syafi’i berhasil menghafal di luar kepala, kitab Al-Muwattha’ karangan gurunya. Selain itu beliau juga hafal Al-Qur’an sebelum dia baligh. Sungguh luar biasa kan? Subhanallah.
Setelah Syafi’i dewasa dan mengusai banyak ilmu dan kecerdasan, kita tahu sejarah mencatat Imam Syafi’i sebagai salah mutjahid mutlak, layaknya guru-guru sebelumnya. Namun ketika As-Syafi’i telah menjadi Imam besar, tidak lupa dia berterimakasih kepada gurunya, salah satunya kepada Imam Maliki. Dia menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga dia menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Dia juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga dia menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Dia juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.” Subhanallah, itulah gambaran ‘persahabatan’ antara guru dan murid.
Profesi yang tertukar
Sobat sadar nggak sih tugas mulia sebagai seorang guru telah tertukar? Kalo pepatah jawa mengatakan guru itu akronim dari ‘yang digugu dan ditiru’ (yang didengarkan dan dicontek perilakunya). Nah, jujur aja seorang guru yang digugu dan ditiru itu sudah tergantikan perannya oleh yang tiap hari hadir dalam kehidupan kita memberi contoh gimana cara bicara, jalan, makan, bergaul, bahkan cara tidur pun kita diajari. Ya, melalui kotak ajaib di rumah kita, maupun benda mungil yang dalam genggaman, kita bisa mencontek habis perilaku artis-artis pujaan. Jadi artis atau selebriti telah menjadi guru bagi remaja-remaja kita.
Nggak berlebihan dong kalo kita bilang profesi guru tergantikan oleh para artis? Karena dari mereka, remaja kita juga banyak belajar apa saja yang terkait kehidupan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Namun sayang sejuta sayang, apa yang ditampilkan oleh artis-artis kita bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan oleh guru-guru kita di sekolah, utamanya soal etika, moral bahkan agama. Tidak perlu kita tunjukkan satu per satu, sobat bisa mencari contohnya sendiri, artis-artis kita yang ‘seperti itu’. Walaupun memang tidak semua artis seperti itu, ada artis yang baik dan sholih-sholehah juga. Tapi yang ‘seperti itu’ lebih banyak daripada yang tidak ‘seperti itu’.
Kenapa kita berani katakan lebih banyak yang tidak ‘seperti itu’? Selain data dan fakta berbicara begitu, juga karena hal yang mendasar bahwa tanpa sadar atau kita sadari kita ini hidup di alam sekular, di negeri yang aturan agama tidak boleh mengatur kehidupan. Tentu saja, di negeri sekular, perilaku siapapun, termasuk para artis yang bertentangan dengan agama, jika ada yang mempersoalkan, paling mentok jawabannya “udah urus aja diri sendiri, nggak usah ngurus orang lain”, atau jawaban yang lebih nohok “indonesia kan memang bukan negara agama..” Nah loh!
Karena virus sekularisme jugalah para artis pengusung budaya dan perilaku tidak Islami bisa dengan mudah mentransfer ke teman remaja. Baik artis lokal apalagi artis Barat yang sekarang dengan mudah kita akses kehidupannya hanya sekali sentuh dilayar gadget kita. Makanya kalo bicara tingkat kepercayaan atau popularitas, udah pasti yang jadi guru bagi remaja-remaja kita adalah para selebritis. Sementara itu kalo sekularisme masih jadi pijakan aktivitas, maka bukan tak mungkin yang lebih banyak dipraktekan dalam kehidupan dunia remaja adalah apa yang diajarkan oleh para selebirits daripada para guru.
Bukan mau mempertentangkan antara dua profesi tersebut, tapi memang pada faktanya profesi itu telah tertukar. Begitulah virus sekularisme bekerja di negeri-negeri muslim, jika kita biarkan berjalan virus ini, maka jangan salah jika agama (Islam) bukan lagi pertimbangan seseorang melakukan perbuatan, melainkan pertimbangannya bermanfaat ataukah tidak (azas naf’iyah). Sementara untuk mengatakan sesuatu itu bermanfaat atau nggak, pertimbangannya adalah selera masyarakat. Kalo menurut masyarakat itu bermanfaat dan diamini banyak orang, maka berbondong-bondong orang melakukannya.
Maka, tugas guru untuk menyebarkan kebaikan (al khair), tidak boleh disepelekan. Jangan sampai profesi ini tertukar oleh profesi yang lain, bahkan kita harus memandang menjadi guru bukan lagi hanya sekedar profesi, melainkan kewajiban, demi keberlangsungan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat. Walaupun sebenarnya profesi apapun tidak boleh dilepaskaitkan dengan posisi kita sebagai seorang muslim, yang salah satu kewajibannya adalah menyampaikan dakwah Islam.
Guru yang pendakwah, why not?
Yuk kita ajak dan doakan guru-guru kita agar tetap taat syariah, guru yang istiqomah dalam kebaikan dengan menjalankan profesi sebagai guru, tetapi juga penyebar kebaikan dakwah Islam sebagai kewajiban seorang muslim.
Dakwah alias menyampaikan al-khair serta amar ma’ruf nahyi munkar adalah kewajiban bersama bagi seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali, termasuk guru. Klop sekali dengan profesi guru yang pekerjaannya menyampaikan ilmu, maka pada saat yang bersamaan dengan profesi tersebut jika bisa tersampaikan dakwah Islam kepada murid-muridnya, sungguh amat luar biasa. Sehingga guru sekualitas Imam Maliki akan menghasilkan Imam Syafi’i, guru sehebat Aa’ Syamsudin bisa menghasilkan Muhammaf Al Fatih, dan guru sehebat Rasulullah Saw, menghasilkan Para Sahabat ra. So, menjadi guru yang pendakwah, why not?

Post a Comment
Post a Comment