Teratai. Kecipak air baru saja mengganggu meditasimu yang serasa kaku. Kenapa kau biarkan berlalu? Tidakkah kau ingin ia tahu kesibukanmu? ataukah kau malu karena pernah mencintainya di masa lalu? 
Teratai, Bau amis itu tercium lagi. darah mengalir sepanjang pedang mengulur cerita dendam tak berkesudahan. Penggalan kepala, teratai? Kau lihat kan kemarin? Penggalan kepala yang menebar angkara saat kita takut bersuara. Dan aku hampir saja mengadu pada Dewa jika sewa tanah tidak mau disepakati dengan seksama. Teratai, andai kau tak melawan waktu itu pastilah kita tak berjumpa kali ini. Kalau saja kau bereinkarnasi menjadi batu, pastikan kau ada menemani genggaman bocah-bocah intifada. Tak jua gentar menghadapi serdadu walau logika meringis kala batu bertemu peluru. 

Teratai… arghhhh, kini ku lihat jelas warna darahku. Inilah akhir cerita kita. Ku tunggu kau di lain dunia.

Terbata-bata tapi ia tetap mencoba. Tak tega rasanya jika gagal lagi kali ini hingga seraut ekspresi kecewa menyeruak lagi dari wajah keriput nenek minah. Manusia udzur yang sebentar lagi mungkin menyatu dengan tanah. Sosok pengajar dengan semangat penuh, getol mendedikasikan hidupnya untuk mereka yang tak punya cukup rupiah.

Sang adik yang meraung-raung tak tahan sengat matahari, tak lagi dipedulikannya. Kali ini ia harus selesai. Empat hari sudah papan itu dipelototi. Menyingkronkan informasi sebelumnya dengan fakta yang terindera, menyelaraskan gerak langkah otak dan lidah sehingga menghasilkan lafal yang di kehendaki dalam kaidah bahasa kita.

“p…e…PE!, l…u…LU! r…u…RU!” ia masih ngotot mengeja, sebuah sajak teratai seorang pujangga gila yang konon katanya betah bercengkerama dengan teratai dipenghujung purnama. Naas, sang pujangga di temukan tewas di danau ini puluhan tahun silam.

Tak lama kemudian, tangis sang adik terhenti. Matanya menutup. Entah pingsan atau ketiduran, itu hal biasa. Biasa terjadi saat hilir mudik di traffic light, rumah ke rumah, kantin-kantin kampus ternama, hingga kediaman elit para Dewan. Hoho… untuk yang terakhir ini, sudah tidak pernah lagi. Ia kapok karena pernah nyaris celaka kena serempet mobil sang Dewan terhormat. Sudah begitu, dapat makian pula. Seakan Ia di pandang sebagai sampah yang harus segera enyah. Padahal atas nama kasta nya lah, si Dewan naik tahta.

Oh ya, hampir lupa. namanya Ina. I-N-A. gampang kan mengingatnya? Singkatan nama negara kita. Asal jangan saja kau samakan kondisi Ina dengan negerimu ini. Atau, jangan-jangan seperti itu? yalah.. yalah… maybe benar…

Ina lelah, berganti adiknya yang kini terbahak. Entah sisi kelucuan mana yang baru ditafsirkannnya. Padahal Ina cuma menggelindingkan sekeping koin hasil jerih payahnya hari ini. Hari memang cerah dan suhu selalu saja meminta peluh. di emperan toko koh Ahong ia singgah berteduh. Tapi Ina harus pergi. Sepasang mata bejat sedang mengintai gelagatnya. Seteru dalam hatinya kembali beradu, mencabik-cabik perasaan yang sudah terlanjur kelam oleh dendam yang masih tergenggam. Setiap desah dan dengusan napasnya, adalah pengkhianatan atas peraturan yang sedari dulu telah otoritarian. Mata itu membelalak, pemilik tubuh kekar dengan tato di sana sini mengirim isyarat mematikan. Kalau disambut dengan perlawanan, maka urusan akan runyam belakangan. Ina mengalah. Si mungil adiknya kembali menempel di balik tubuh. Langkahnya tak tentu arah, matanya masih membara dibawah terik yang membuat hari semakin gerah. sesaat kemudian, sisi-sisi koin bersenggolan membentuk irama yang sekilas merdu dalam gelas plastik yang masih baru.

“ kak…uan ta’ kak. Seratus mo kodoongg…” penghuni Honda Jazz merah menoleh. Sebuah pertanda baik. Kaca mobil membuka, jemari lentik khas kelas atas melepaskan uang ke atas gelas. Shit! Ia benar-benar tersugesti. Benar-benar seratus rupiah! Ina terpaku. Diperhatikannya lagi wanita itu lebih lama, “ kak, limbi’ mo kak….kak! limb…” lampu berubah hijau, si wanita melesatkan mobil tak ambil pusing. Mungkin Ia masih ada janji dengan klien siang ini. Tapi tidakkah Ia ingin tahu, kalau adik Ina belum makan sejak malam tadi hingga sore yang hampir menjelang kini?

***

Malam. di tengah ruang kehampaan sebatang lilin hidup kesepian. Denting-denting piano mengalun lembut, temani suara merdu Melly Goeslow ketika lirik Bunda mematisurikan selera humor untuk sejenak menarik pelajaran dalam kesempatan kala itu. Ina menghela, mencoba mengingat-ingat kembali wajah ibunya. Gelombang eksodus telah mengombang-ambingkan tubuhnya hingga ke tanah tempat Ia berpijak kini. meninggalkan pusara sang bunda di seberang pulau sana. Sketsa akurat sang bunda baru saja terangkai dalam ingatan ketika dengan segera tersapu oleh gemerisik kertas di hadapannya. Buku lusuh yang tak pernah lagi tersentuh, teraih oleh tangan cacatnya mengisyaratkan keinginan menggebu untuk mengasah ejaannya kembali. Di sebuah lembaran ia berhenti, Dingin. Di sini dingin Ayah. Hembus angin ini tak henti menampar wajah saat kami sudah terlalu sadar akan kenyataan hari esok yang kian mengenaskan. Perang ini ayah. kebisuan yang menjangkiti penguasa, kepura-puraan kala mata kami menemukan sosok mereka bersembunyi di balik proyek pembantaian demi amannya kepentingan imperalis di negerimu ini. Ayah, mengapa sebagian umat ini terlelap saat mata kami tak berhenti terpejam oleh kedzaliman? Bukankah Nabi telah menyatukan kami dalam ikatan ideologis, jauh melampaui kualitas persaudaraan biologis? Ayah, tahukah engkau? Adikku menggelandang di luar sana dan tak ada satupun kabar tentang dirinya. Adakah ia telah memanggul senjata atau malah sudah di sampingmu kini, di alam sana? Ayah, Tentara keparat itu muncul lagi. Sampai jumpa. Aku sudah siap. [Srebrenica, 1995]

“i…d..e..IDE!… o…IDEO! l…o…g…i…LOGI!!…s…LOGIS!!” Ina sudah agak lancar, pastilah nenek Minah sedikit bahagia. Adiknya terlelap lagi. syukur pagi ini Ia bisa makan roti. Waktu menyulap secuil kebahagiaan saat adiknya terlihat begitu lahap. Sebagian uang hasil jerih payah Ina telah raib saat hendak membeli sebungkus nasi tadi malam. Berubah menjadi sebotol arak lokal dan kacang goreng. Menguap di atas meja judi orang-orang bejat yang merasa punya kuasa atas hidup bocah 10 tahun itu. Mengacuhkan Ina yang lagi-lagi terpaksa hanya menikmati senandung bising dari usus, mengayun-ayunkan kelopak matanya hingga semaput di atas kardus. Saat yang sama, prosesi serah terima baru saja terjadi oleh makelar kasus. Desas-desus penyelewengan uang negara pun mengudara. Penjarahan, pengkhianatan, penipuan dan penindasan. Semua langgeng di atas sistem bebal hari ini.

“eh, Ecceng! Ini ada roti lagi. Makan nah?” Ecceng mendesah, terima nasib. Persis orang yang sudah paham betul akan kerasnya hidup.

Sedikit demi sedikit lama-lama perutnya Ecceng membuncit. Lalu bagaimana dengan Ina? Sudahlah, yang tua mengalah. Paling-paling sebentar lagi kenyang sendiri oleh tontonan kuliner yang selalu bikin iri. Tiap sajian makanan yang tertangkap kamera, dengan segera akan di transformasikan oleh otak, diramu sedemikian rupa menjadi bulatan-bulatan sugesti yang akan meledak pada waktu yang tepat. Lalu tipu daya sendawa menggema saat host acara kuliner berkata,

“oke pemirsa… sampai disini dulu sajian kuliner yang bikin ngiler. Saksikan terus acara ini dan sampai jumpa minggu depan. Bye! Bye!” klik! Senandung bising yang sama kembali menggema dari perut yang sama. Tak perlu sedih. Ina sudah kenyang!

***

“hidup rakyat! Hidup!! Hidup rakyat!! Hidup!! hidup rakyat!! Hidup!!” yel-yel yang menarik perhatian, tak terkecuali Ina. Kelompok itu berhenti, membentangkan sebuah spanduk bertuliskan kata-kata perlawanan terhadap kebijakan Negara yang dinilai tak lagi berpihak pada jelata. Ragam komunitas merapatkan barisan untuk satu kata penolakan. Di sana, semua warna mahasiswa sedang unjuk gigi, menguji seberapa besar mereka punya nyali. Ada yang terlihat bak legenda kombatan hutan Bolivia, reinkarnasi aktivis 98, dan banyak lagi. Begitulah seharusnya, dipundak siapapun mestilah tersemat harapan orang-orang papa.

Saat masa, massa dan suasana telah sedia, Ina maju mencoba peruntungan.

“kak…limbi’ dulu kak. Belum pa makan kodong….”

“hah!! Limbi-limbi! Pembeli roko’ku lagi ndada.” Sang mahasiswa mengacuhkan tawaran pahala. Kembali asyik bercanda dengan seorang wanita yang mungkin saja pacarnya. Mahasiswa segala rupa. Wajahnya memang bersih, pakaian khas distro, gaya rambut Emo, dan kunci mobil menggantung begitu saja di saku celana. Sinis mata Ina menebar sinyal ketidakpercayaan pada seonggok tulang dihadapannya itu. Dan benar saja, kepulan asap Marlboro menthol menjadi saksi pengkhianatan atas kata-katanya tadi.
Ina belum mau kalah dengan keadaan. Saat orator masih sibuk meluruskan penguasa, Pertanyaan yang sama kembali meluncur dari mulut Ina dan segera disambut oleh guyuran caci maki wanita pujaan si rambut Emo. Mahasiswa rambut Emo memandang remeh, melempar asap ke wajah Ecceng. Idih!
Selang beberapa saat barisan mahasiswa telah membara oleh orasi yang semakin menggumulkan energi perlawanan.
“kawan-kawan, negeri ini sejak dulu diklaim berdaulat. Tapi sesungguhnya kita tidak pernah berdaulat! Berapa banyak rakyat yang turun ke jalan, meneriaki penguasa agar segera merubah kenaikan BBM ini. Tapi tidak pernah didengarkan kawan-kawan. Hidup rakyat! Hidup rakyat!! Hidup rakyat!!!”
“Hidup!…Hiduupp!..Hiduuuppp!!!” pekikan menggelora saat pria rambut Emo menyambut teriakan yang sama. Ina mendesis, sepertinya ia sedikit paham. Sosok imajiner pria rambut Emo bersembunyi di balik dusta wajah filantropi. Kelihatan sekali kalau kehadirannya bukan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas sehingga penjajahan diatas dunia, terhapuskan. Hah…basa-basi! bisa dipastikan kalau pria rambut Emo tidak ikut rapat konsolidasi sehingga apa yang ia lakukan di sini tak lebih dari gaya-gayaan ala playboy letoy. Beginilah harta, tahta dan wanita membuat lupa akan jelata. Ketika kesamaan platform perjuangan justru menjadi alasan yang lebih menggiurkan di banding kekuatan ideologi gerakan guna mengakomodir serakan titik-titik perjuangan. Maka sebanyak apapun massa, saat gelombang kekuatan besar mulai menggertak di ujung sana, kekuatan massa hanya akan terlihat bagai kesatuan yang rapuh, yang bagian-bagiannya hendak lari satu-persatu. elemen revolusi bukan hanya massa, tetapi juga kekuatan visi. Lautan massa dari berbagai kasta hendaknya tidak dimanfaatkan untuk sekedar unjuk kekuatan yang pada akhirnya tetap membiarkan mereka menjadi massa-massa mengambang. Mestinya harus ada pendidikan politik untuk membentuk massa yang cerdas. Yakni massa yang tahu persis dari dan untuk apa ideologi gerakannya ada, yang mana ideologi itu telah teruji kebenarannya secara pasti. Bukan ideologi yang bersembunyi dibalik topeng manusiawi.
 
***

Tak perlu menunggu lama. Cukuplah menghabiskan tiga batang rokok saja untuk mengatakan “wow…Ecceng sudah besar.” Jarinya gesit menekan senar ukulele. It’s show time!
Ina mulai berdendang ketika lampu merah memberikan tanda dan Ford Fiesta berhenti tepat di depan mata. Sepotong Reff gubahan lagu Melly Goeslow dan Amy, meluncur begitu saja. Entah siapa yang mengajar.

…Ketika tinta menagih harapku sungguh menggebu… Kembang kempis dadaku meredam sakit hati… Kepal tangan tergambar inginku segera menentang… Semua kebohonganmu, atas segala janji…

Kaca mobil membuka. Ah, wanita itu lagi. bukannya segera memberi uang malah asyik melihat bekas tinta di jemari kiri. Dia bukan Ungu Cliquers tapi sudah pasti Ungu klingkingers.

“50 ribu, cukup?” katanya. senyum Ina 2-2-7. Ina mengangguk, lega. Hore!!

Ya… Ketika tinta menagih hadirnya kehidupan yang damai. ketika tinta menagih janji yang terkhianati. Ketika tinta menagih gerak intelektual negeri yang hilang bak ditelan bumi.
Ketika… Tinta… Menagih… (Source : https://youngfaith.net/2015/12/ketika-tinta-menagih/ )