Matahari
mulai menyapa, udara yang segar menyentuh wajahku dan suara kicauan
burung sedikit mulai terdengar. Tergerak hati ingin jalan santai bersama
teman, karena hari minggu adalah hari yang pas untuk berolahraga. Tapi
tidak ada rencana sedikitpun dengan mereka. Akhirnya, aku memilih pergi
sendiri. Langkah demi langkah, keluar menuju taman yang indah di dekat
rumahku. Ingin berolahraga untuk meregangkan otot yang selama ini tidak
pernah dimanjakan. Dengan pakaian yang belum menutup aurat yang syari.
Masih memakai celana training, baju kaos dan kerudung paris tipis.
Namun, ketika itu dalam pikiranku itu sudah memenuhi syarat dalam
berpakaian. Itu sebabnya, aku tidak pernah mempersoalkannnya. Maklum,
masa lalu adalah masa jahiliyahku. Masih ikut-ikutan teman dan belum
punya prinsip hidup yang benar. Tiba-tiba, terdengar suara yang
memanggilku dengan penuh teriakan, “Miraaaaaaaaa!!!!!!!”, panggilannya
yang mengejutkanku. “”Eh, eva, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu,
kemana saja?”tanyaku dengan penuh kerinduan. Eva adalah sahabatku waktu
SMP, hanya saja karena sekolah SMA-nya berbeda membuat kami terasa jauh
dan jarang jumpa. Namun, semenjak pertemuan itu. Persahabatan itu
terjaut kembali dan sering bertemu dengan sesama teman kami.
Menjelang tahun baru. Tiba-tiba, Eva mengajakku untuk pergi jalan-jalan malam minggu. “Mira, aku bosan di rumah malam ini, kita keluar yuk?” tanyanya penuh harap. Aku menjawab, “Ah, malas va! Gak biasanya minta jalan-jalan, ada apa?”aku biasa saja menanggapinya. “Gimana kalo malam tahun baru, kamu mau?”eva terus membujukku. Kemudian aku langsung mengiyakan. “Baiklah, Cuma jalan-jalan aja kan? Jangan macem-macem lho!”ancamku dengan penuh canda. Senyuman indah dan canda tawa menyirami suasana, membuat kami semakin dekat dan merasa seperti adik kakak. Hari demi hari, kami terus menghabiskan waktu bersama. Tanpa id sadari, Kami memiliki banyak kesamaan, baik itu dalam makanan, lagu, warna maupun pergaulan. Salah satu kesukaan kami yang lain adalah belajar. Hanya kebetulan saja mungkin ya. Aku dan dia tidak mau pacaran, sementara teman-temanku yang lain sibuk dengan gonta-ganti pasangan. Aku berfikir, sangat bangga dan senang bisa berteman dengan Eva.
Keesokan harinya, aku pergi berbelanja dengan ibuku ke pasar. Hal yang biasa kulakukan setiap harinya, jika habis makanan pokok di rumah. Setelah selesai berbelanja, ketika hendak menyebrangi jalan sambil memegang tangan ibuku. Aku menoleh ke belakang sejenak dan melihat. Ada seseorang yang sangat mirip sekali dengan eva. Dengan pakaiannya yang luar biasa ketat, kemudian berpelukan dengan seorang lelaki yang lumayan tampan. Dan seperti bepergian jauh dengan tas yang di sandang olehnya. Aku terkejut dan ibu mengagetkanku. “Mira, kamu kenapa?”tanya ibuku heran dengan ekspresiku yang aneh. Aku tersentak, “Oh, ibu.. hm.. tidak apa-apa bu?”aku terus berjalan sambil menoleh berkali-kali ke belakang berharap yang kulihat itu bukanlah eva sahabatku. “ya sudah, ayo pulang, sepertinya kamu kurang sehat,” ibu sangat mengkhawatirkanku. “iya, bu. Tiba-tiba saja aku pusing,” jawabku dengan sedikit tegang. Aku sangat berharap yang ku lihat itu bukanlah eva, jika memang benar aku memilih diam dan ingin memantau apa yang dilakukan selama ini. Kekhawatiran itu merupakan kepedulianku terhadap sahabatku waktu itu.
Setelah apa yang kulihat kemarin, sejenak teringat kembali apa benar perempuan yang berada di belakang itu eva. “Ah, gak mungkin, eva mana mungkin seperti itu? Semoga saja tidak” gumam hatiku bertanya. Malam tahun baru semakin dekat, dan aku mempersiapkan diri untuk membawa eva jalan-jalan. Sesekali memenuhi permintaannya yang aneh tidak menjadi masalah buatku. Akhirnya, sorenya aku menjemput eva dan kami memulai rute perjalanan dari rumahnya keliling kota dan juga menyinggahi tempat-tempat nongkrong para remaja. Dan sepertinya eva tampak biasa dan sangat akrab dengan teman lelakinya itu. Dengan wajah keheranan aku bertanya, “Eva, sebenarnya kamu mau ngapain sih di tempat beginian?”tanyaku ingin menyudahi semuanya. Aku mulai takut akan terjadi apa-apa. Eva pun menjawab, “sudahlah mira, aku ingin sekali-kali kita tu harus gaul sedikit jangan terlalu kuper, gak masalah kan kita cuman kmpul-kumpul begini saja,”jawabnya santai. Tapi, aku tetap saja tidak tenang, “Tapi, mira ini sudah larut malam, gak baik juga buat kita,” sentakku masih dalam keadaan santai. “iya, aku tau! tapi kan malam ini rame banget, semuanya pada keluaran kok, gak apa-apa kali ra, santai aja,” eva mencoba menenangiku. Fine, aku mencoba santai dan mengikuti perkataannya. Dan aku melihat dia di temui cowok sambil melambaikan tangan. Dan setelah diperhatikan, cowok itu mirip sekali dengan orang yang membonceng eva waktu aku lihat saat berbelanja dengan ibu. Aku berkata dalam hati, “apa jangan-jangan, astaghfirullah! Itu beneran eva,”kegelisahan mulai bertambah. Ingin rasanya aku bertanya langsung dengan eva malam itu, namun keadaan yang tidak memberikan kesempatan untuk bertanya. Tiba-tiba eva memperkenalkan aku dengan seorang cowok, namanya Heri. Tengadah aku melihat, “Waaaw, ganteng banget!” gumamku dalam hati sedikit mulai tergoda. Tapi, aku mencoba menepiskan dan berkata dalam hati untuk lebih berhati-hati dan menahan perasaan. Dan sempat sedikit berbincang masalah aku dan heri. Dan seterusnya, eva bersama cowok kemarin pagi mungkin saja pacarnya. Dan aku bersama heri hanya teman biasa yang baru kenal.
Tibalah momen yang di tunggu yaitu malam tahun baru 1 januari tepat pukul 00.00 wib. Semakin banyak manusia yang berkeluaran. Suara dentuman mercun saling bersahutan dan berlomba-lomba tiada henti. Mungkin, malam itu penjual mercun kaya mendadak karena manusia berbondong-bondong untuk membelinya. Belum lagi, sengaja diadakan band di kota itu. Di satu sisi aku merasa senang dengan keramaian, tapi di sisi yang lain hati sangat gelisah. Apa sebenarnya yang kulakukan ini adalah benar. Dan masih gelisah dengan eva. Tiba- tiba eva mengajakku ikut serta untuk meramaikan perjalanan. “Mira, aku pergi dengan temanku ya,”permintaan eva yang merayu. Aku terkejut, “eh, jangan eva, aku gak mau!,” aku menjawab dengan keberatan. Eva langsung naik sepeda motor dengan temannya itu. Dan dengan terpaksa aku juga bersama temanku yang baru kenal tadi heri.
Di tengah perjalanan kami berpisah. Tidak berpikir panjang, dalam kondisi penuh keramaian seperti itu. Aku langsung meminta heri turun dari sepeda motorku dan mencari eva walau dalam kondisi macet sekali. Aku mengelilingi kota, kembali di tempat nongkrong tadi. Dan bertanya pada temannya. Mencoba untuk meneleponnya juga tidak dapat di hubungi. Sampai, akhirnya manusia di jalan mulai surut. Dan aku memutuskan untuk pulang dan mencoba prasangka baik, semoga eva baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa.
Setelah kejadian itu, tiga bulan telah berlalu. Eva belum menjumpaiku. Sementara, hari-hariku juga penuh dengan kesibukan. Jadi, aku juga belum sempat menemuinya. Kekhawatiranku tertepiskan dengan berfikir, eva pasti bisa menjaga dirinya. Walau sedikit kecewa dengan dia yang tidak sama sekali mengabariku, setelah meninggalkanku dengan orang yang tidak pernah aku kenal malam itu. Marah bercampur sedih pasti ada dalam hatiku, tapi aku mencoba berusaha memaafkannya.
Tiba saatnya, ketika aku duduk di kursi kayu dengan penuh embun pagi. waktu telah mempertemukan kami lagi di sebuah taman yang sebelumnya pernah bertemu. Sepertinya, dia sengaja tidak melihatku, berbeda sekali ketika dulu dengan ceria meneriakkan namaku. Aku menoleh terus ke belakang, mengikuti arah mataku kepadanya dan langsung memanggilnya. “Evaaa!,”aku meneriakkan namanya. Aku mengira, dia bakal pura-pura tidak mengenalku. Tapi dia langsung memelukku dan, “Mira, aku.. aku..,” dia seperti gugup. “ada apa eva?” kekecewaanku terhadapnya seketika menghilang. “Aku minta maaf, karena sudah meninggalkanmu malam itu,” eva merasa sangat bersalah dan seperti ada sesuatu yang disembunyikan. “Eva, aku sudah memaafkanmu. Sebenarnya, apa yang terjadi?” Tanyaku sedikit heran dengan tingkahnya. Dia seperti orang kehilangan arah tujuan hidup. “Eva, kamu kenapa?” aku sedikit membentak. “Aku…,” jawab eva membuatku penasaran. “Kamu kenapa? Cepat kasih tahu aku eva,” dengan penuh kekhawatiran yang luar biasa. “Malam itu aku di perkosa, aku di paksa, dan aku tidak kuasa menolaknya,” jawabnya dengan penuh tangisan terisak-isak. “lelaki yang pernah kamu lihat di pasar itu pacar aku, dan sebenarnya aku juga melihatmu ketika berbelanja bersama ibumu.” Tambahnya lagi dengan suara yang semakin kecil. “Astaghfirullahal adzim, evaa! Kamu tahu tidak? hal itu dilarang oleh Allah dan itu adalah perbuatan zina,” terkejut bukan main.
Aku tidak mampu berkata-kata lagi dan tiba-tiba seluruh sendiku melemas. Aku langsung memeluk eva. Dan air mata meleleh dengan sesak mendengar berita itu. Tidak tahu apalah yang kurasakan waktu itu melihat sahabatku menjadi korban. Rasa bercampur aduk, tak kuasa menahannya. Terkejut, kecewa, marah, sedih, semua rasa telah merasuk hatiku. Dan sangat benci dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab itu. Bagaimana dengan eva yang mengalami hal ini. Sudah pasti tertekan dan frustasi. Aku tidak ingin memarahinya atau memakinya. Ini semua salah kami yang mudah ikut-ikutan dengan pergaulan bebas. “Dan aku sengaja mengundang heri, agar kamu tidak mengikutiku mira, aku benar-benar minta maaf, aku salah!!, tangisannya semakin bertambah. “Sudahlah, eva!,” aku mencoba menenangkannya. “Tapi, aku.. aku salah, aku malu, apa yang harus aku katakan pada orang tuaku,” dia terus bicara tanpa henti dengan suara tinggi. “Evaa cukup! Yang berlalu biarkan berlalu, sekarang tugas kita adalah memperbaikinya dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Setelah kejadian itu, aku memutuskan berubah dan mengkaji islam. kita perbaiki semuanya dengan kembali pada islam ya. Karena, menurutku hanya itu solusinya. Kamu mau ikut aku? Kita harus bertaubat. Minta ampun kepada Allah Swt, belajar dan berjuang bersama dalam dakwah,” jawabku dengan sedikit penjelasan yang membuatnya tenang.
Pena terhenti mengakhiri kisah yang kutuliskan dalam diari kecilku. Kisah yang memilukan hati dan sangat mengecewakan. Aku bersandar dalam diam di kursi belajarku. Mengadah dengan melihat ke atas sambil mengenang masa lalu itu. Ternyata, begini jadinya jika jauh dalam aturan Islam. Manusia tidak memiliki arah tujuan yang jelas dan bingung apa yang harus dilakukan jika menghadapi segala masalah. Akhirnya, berbuat dengan tolak ukur sesuai pemikiran manusia yang lemah dan terbatas. Atau tasyabbuh (ikut-ikutan) pada kebanyakan manusia yang melakukannya. Sampai-sampai, manusia itu sendiri akan mudah terjerumus dan masuk dalam perbuatan yang di larang Allah. Maka dari itu, kesimpulannya adalah kembali pada aturan islam yang mampu menjadikan manusia mulia dan terjaga dari maksiat. (Source ; https://youngfaith.net/2015/12/kisahku-antara-aku-dan-dia/)

Post a Comment
Post a Comment