Perlahan sang kumbang coba melarikan diri. Ia sadar betul kesalahannya kali ini. Nyalinya ciut kala menatap gelak tawa kesombongan gerombolan ingusan itu. Sang kumbang tiada berdaya, ia tak mampu mengelak. Dalam kondisi kepepet, hidup kadang kala menodongkan pilihan. Mau tetap bernyawa tapi siap di tindas atau mati karena melawan sebab diam adalah pengkhianatan. Atau, mati berkalang tanah biar hidup tak menanggung malu. Si kumbang cuma bilang, “ya okelah kalo begitu…” Dengan segala kepasrahan, kumbang relakan diri menjadi permainan gerombolan mungil itu.
Galian tanah berbentuk persegi telah siap sedia. Di sudut biru ring pertarungan, seekor laba-laba menanti kedatangannya. Tanpa embel-embel kostum perang, kedua hewan aduan itu akhirnya bertempur habis-habisan untuk satu kata mujarab ‘bertahan hidup,’ Ya, kata yang juga sudah mendarah daging dengan kalangan akar rumput negeri.
Sorak-sorai muda mudi mungil sangat riuh. mengesampingkan segala perkara dan kepusingkan untuk sementara waktu. Perhelatan hewan aduan memang mengasyikkan. Menarik perhatian seluruh bocah. Hingga akhirnya, gelegar sangkakala truk mengagetkan mereka. Memecah kerumunan yang semula terlihat menggairahkan. semua mencar, tinggalkan laba-laba tanpa perawatan medis sedikitpun, aih!
Bak mobil truk mulai menongkang. Mereka berlari pontang-panting mirip suku Apache. Kebiasaan yang sudah kenyang dilakoni tiap hari. Saling berebut biar hasil yang didapat hari ini setidaknya bisa buat makan. “Atau paling tidak bisa membeli obat buat ibu.” pikir Semar dalam gerak langkah dan kecepatan larinya. Bermodal gelondong kecil besi pengait dan karung goni, Semar serta kawan senasibnya menyusuri gerahnya hari dengan sejuta janji kesejahteraan di kanan kiri baliho sepanjang jalan. tanda-tanda perubahan?
Aih. BBM naik! Lantas, hanya Semar sajakah pelakon sandiwara perkelahian waktu? Sungguh tidak! Ada banyak bocah seperti dia di bantaran kanal ini. Kawasan kumuh yang setiap saat mendapat rongrongan polisi pemerintah bersenjatakan sangkur dan pentungan itu. Kawasan yang bersembunyi dari angkuhnya gedung tinggi menjulang. Kawasan dimana Ibu Semar telah lama terbaring di atas tikar anyaman, di baluti kain batik sambil terkulai tak berdaya oleh penyakit yang menolak ditangani dokter sialan empat tahun silam. Empat tahun lalu…
“Dokter! Dok! Tolong Ibu saya, Dok. Tolong ibu saya. Pak, ibu saya Pak. Tolooonngg !!!” mirip orang gila Mahfud kakak si Semar, mengongoi di ruangan itu. Semar yang belum pandai memahami, terdiam kaku melihat busa-busa keluar dari mulut ibunya. Bapak yang di meja resepsionis memandang sinis, santai dan seolah tak mau tahu. Kem bali asyik menekan tuts kalkulator, memper- baiki posisi kacamatanya lalu menoleh lagi.
“Heh kau! Sebaiknya kau cari dukun saja buat ngobati ibumu. Kecuali kau punya uang yang bisa membuat kami menanganinya sekarang. Kalau tidak, kau pulang sajalah!”
“Pak jangan begitu, Pak. Kasihan Ibu saya Pak. Tolong Pak, dimana nurani Bapak. Ibu saya sekarat Pak. DOKTER!! DOKTER!! DOK TER!!”
“Dah. Keluar kau! Sana cari dukun! Sebelum Ibumu mati di sini.” Mahfud masih menggendong Ibunya saat ia mulai diseret keluar oleh satpam. Ia bersikeras menemui sang dokter yang entah di tabir mana bersembunyi.
“DOKTER!! DOKHHH!! DOKTER!! IBU SAYA DOK!!!” Mahfud berteriak lagi. Emosinya melonjak, membuatnya hanya mampu tergugu. Dan akhirnya Dr. Hansen pun keluar, memunculkan secercah harapan.
“SATPAM! Usir dia keluar. Asal kau tau saja, sudah banyak orang seperti kamu yang datang ke saya. Orang macam kamu ini taunya cuma bikin repot! Kau pikir itu obat belinya pake apa, hah?!”
“Dokter, tolong Dok. Saya akan bayar Dok. DOKTER!! DOKTERRR!!!” urat lehernya menegang, sementara si Dokter berlalu tak mau peduli. Digendongnya sang ibu keluar dengan amarah yang luar biasa memuncaknya. Sambil berlari tertatih, pikirannya tertuju pada satu tempat; Dukun yang sudah biasa didatangi oleh mereka yang tidak mampu. Dan pada akhirnya, seperti itulah nasib ibunya kini.
***
Kerjaan seperti ini adalah warisan turun-temurun warga tempat tinggal Semar. Entah sejak kapan ketimpangan ini terjadi. Di satu sisi laju pembangunan tak tertahankan tapi di sisi lain ketidakadilan pun tak terelakkan. Yang pasti mereka sangat bergantung pada tumpukan sampah yang dibawa oleh truk besar dari setiap titik TPS (Tempat Pem- buangan Sampah).
“hei… hei… itu milikku. Kau tidak liat pen- gaitku tertancap duluan disitu.”
“iiiiii uuu aaatt uuuu !!!” Semar ngotot. Perebutan terjadi semakin seru. Anak-anak mulai ricuh mengompori perkelahian antara keduanya. Kumbang badak menoleh, pergi meninggalkan laba-laba yang masih mengobati luka, lalu membaur berpartisipasi pada ajang provokasi itu. Itung-itung, membalas kejahatan terorganisir mereka pagi tadi. Dan tak terelakkan lagi. Pakkhh.. ketipakkhh.. ketiphung…. suara gendang bertalu-talu, pura-pura bingung tangan siapa yang melayangkan kayu? Oh tidak! Mahfud menghancurkan kerumunan itu, Kumbang badak pun melarikan diri. Mahfud memelototi semua bocah seakan memberi isyarat, “hei begundal-begundal cilik, kembali ke posisimu. Selesaikan pekerjaanmu dengan kerja sama, bagi rata, dan tanpa kekerasan!” kira-kira seperti itu, dan semuapun seolah mengerti.
Usai merapikan kejadian tadi, Mahfud kembali ke perkumpulannya. Kumpulan anak muda kawasan bantaran kanal, kawan-kawannya sejak kecil. Belakangan ini mereka sedang keranjingan membahas tema-tema kebangkitan. Berbekal informasi dari Koran yang ia jajakan tiap hari di traffic light juga buku-buku bekas di lapak Ranto, beberapa kawannya kini sudah bisa sedikit membicarakan masa depan manusia. Bukan cuma memikirkan nasib mereka, tapi seluruh umat manusia.
Dari situ merekapun tahu kalau dasar kebangkitan bangsa-bangsa di dunia dimulai dari kebangkitan taraf berfikir. Kebangkitan atau ketinggian taraf berfikir manusia di tentukan oleh pijakan berpikirnya, yakni ide mendasarnya. Ide itu sendiri dimaknai sebagai pemikiran yang menyeluruh tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan ini; juga hubungan ketiganya dengan keadaan sebelum dan sesudah berakhirnya kehidupan ini. Pemikiran seperti itu akan mengantarkan pada pertanyaan: dari mana manusia berasal? Untuk apa manusia hidup di dunia ini? Lalu kemana manusia menuju setelah meninggalkan kehidupan ini? Jawaban yang benar atas ketiga pertanyaan itulah yang akan menjadi tonggak kebangkitan manusia. Jadi, ketika kita menyadari bahwa kita…. Ah, sayang sekali tulisan selanjutnya di zine mungil itu betul-betul buram, tidak bisa terbaca lagi. otomatis untuk sementara waktu pemahaman mereka sampai di situ dulu. Tapi mereka terus mencari… mencari… dan mencari… begitulah sebuah proses merangkak menuju puncak kegemilangan.
Entah dari mana awalnya, semakin hari mereka makin suka membentuk lingkaran diskusi. “kawan-kawan, ini pertemuan kita yang kesekian kalinya. Kita yang di tempa oleh didikan sekolah alam, kali ini kembali akan menggagas revolusi pemikiran di tempat yang kurang layak ini. Jikalau pada hari ini, banyak pemuda turun ke jalan memperingati hari anti korupsi, maka kita tidak hanya akan menggilas korupsi dan unsur-unsurnya, tetapi juga akar-akarnya. Sebelumnya kita sudah membincangkan bagaimana pentingnya ideologi di emban oleh setiap dari kita. Kitapun akhirnya tahu, bahwa ada tiga ideologi besar di dunia. Dalam perjalanannya, ketiga ideologi ini telah memperlihatkan tabiatnya masing-masing. Satu hal yang lebih dekat faktanya dengan kita ialah kapitalisme, kawan-kawan. Kita sudah cukup tahu bahkan melebihi yang di ketahui oleh orang lain. kita adalah cecunguk-cecunguk yang betul-betul merasakan penindasannya. Sosialisme sendiri yang pernah di kemuka- kan orang-orang berpenampilan urakan dari kalangan mahasiswa, juga tidak memberikan solusi terbaik. Dan kita sudah banyak mendiskusikan hal itu. Jadi, pilihannya tinggal ideologi ini, kawan-kawan. Ideologi….”
Nyong buru-buru mengacungkan jarinya yang indah mengapit sebatang rokok. Ia mulai mengutarakan pendapatnya dengan taburan asap yang keluar semaunya saat ia bicara. “Kenapa begitu saja kau lupakan sosialisme? Lihat bagaimana keberpihakannya pada kita orang-orang tertindas. Bukankah yang menginjak kita adalah borjuis. Maaf, aku bukannya mau mendukung, tapi kita harus betul-betul memahami? Bukan begitu?” Mahfud dan kawan-kawan hanya terdiam sembari memikirkan kembali kata-kata Nyong yang kadang-kadang bawelnya gak ketulungan itu. Ranto kembali melanjutkan, “sosialisme tidak bisa lagi, ia banyak menyalahi fitrah manusia. Sosialis menekan naluri beragama manusia dan menolak eksistensi spiritual, karena alam semesta, kehidupan dan manusia hanya dipandang sebagai wujud dialektika materi dalam evolusinya. Lebih dari itu sosialisme menolak hak manusia atas milik pribadi, sehingga bertentangan dengan naluri mempertahankan diri tiap individu yang antara lain ialah minat mempu- nyai kepemilikan pribadi. Kalaupun….”
“kalaupun ada gerakan sosialis yang sok religius, itu tidak lain hanyalah kedok untuk dapat menyebarkan idenya pada rakyat negeri ini yang mayoritas mengimani eksistensi tuhan!” Mahfud tiba-tiba menyerobot, ikut menambahi. Area diskusi menjadi riuh. Ranto kembali menjelaskan panjang lebar tentang ideologi islam. Membandingkan ketiga arus besar ideologi dunia atas pandangannya terhadap pengelolaan industri. Nyong bosan, ia mengorek-ngorek lubang hidungnya. santai sekali ia berujar, “Hehehe… aku sebenarnya sudah lama setuju dengan yang kau bilang itu. Tadi itu aku cuma menguji kau! Aku kenal buku yang kau pegang itu. Hehehe…”
Seketika itu ia memelentingkan bulatan korong yang dipilinnya ke arah Mahfud. Semua menyoraki lalu menimpukinya dengan kardus. Ranto menghela napas. Ada keharuan memeluk matanya tiap kali melihat antusiasme kawan-kawannya ini. Semua orang bisa asal mau. Ia menutup bukunya, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Dalam Perspektif Islam. Mengepalkan tangan ke udara lalu bersama menggemakan takbir, tanda diskusi telah usai.
Para pemuda menyebar ke lahan kerjanya masing- masing. Nyong meraih pengait besi dan karung goninya hendak bergabung dengan Semar yang dari tadi dengan rakus memilah-milah semua sampah. Mahfud kembali menenteng tumpukan koran menyusuri gang kecil menuju kolong fly over sambil memikirkan kapan mereka bisa terlepas dari gurita kemiskinan ini. bendera setengah tiang!
***
Hari kembali cerah. Seperti biasa, jika matahari sudah meninggi maka saatnya kelapak Ranto. Membincangkan apa saja yang baik untuk dibicarakan. Sekalian mencicipi kopi gratisnya yang selalu saja nikmat jika ditemani wajah Nina. “Bang, si Nina makin besar saja. Wajahnya bersih, matanya indah, gayanya menggemaskan, pokoknya enak dilihat…” “Nyooonng…Nyong…, cepat-cepatlah kau menikah, tunggu apa lagi kau?!” Nyong tak menggubris, ia masih saja memperhatikan tingkah Nina. Teringat ia akan sepupunya yang kini diperistri Ranto. Tiba-tiba saja Nina maju mendekatinya. Nyong memasang wajah teduh, ia mulai menyapa. “Niinaaa…Nina abis maen apa? Ummi-nya kemana?” Nina nyengir lalu bilang, ”Tuh Ummih, nina cekalang bica angkap umbang…ooo..Om!!” Nyong tertawalebar, menghapus debu tipis di wajah Nina. Di kejauhan Mahfud sedang menyuruh Semar membelikan obat untuk ibunya. Hari ini koran Mahfud laku semua, sebab berita penanganan kasus korupsi besar-besaran sedang banyak yang ingin tahu perkembangannya. Mahfud tiba-tiba berlari, dating menggendong Nina, mencubit pipi tembemnya lalu mendudukkannya di samping Ranto. Mereka pun tertawa lepas.
Loudspeaker di mesjid pabrik depan mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tanda waktu shalat dzuhur akan masuk. Sembari memetik daun singkong yang tumbuh di sepanjang pagar luar pabrik, hati Ummi Nina ikut menerjamahkan alunan surah itu.
…Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah mengimani apa yang di turunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah meninggalkan thaghut itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh- jauhnya. Apabila dikatakan pada mereka,” marilah kalian tunduk pada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul,” niscaya kamu melihat orang-orang munafik menghalangi manusia dengan sekuat- kuatnya dari (mendekati) kamu…
Adzan berkumandang, mereka mulai bergantian mengambil wudhu. Merapatkan shaf dan melangsungkan rakaat pertama di lapak kecil Ranto. Bunyi aneh mengganggu kekhusyuan. belum lagi debu bertebaran mengganggu pernapasan yang entah dari mana datangnya. Usai shalat, barulah mereka sadar kalau dua escapator sedang menggempur pemukiman mereka tanpa ampun. Puluhan polisi pentungan ikut mengawasi jalannya penggusuran. Prosesi ini sebenarnya telah digadang-gadang sejak lama. Menurut cerita, kawasan ini akan dibangun mall baru. Dan tentunya dengan segera akan mematenkan anggapan rakyat bahwa kota ini lambat laun akan menjadi hutan beton. Sebenarnya, apa yang dilaku- kan oleh pihak mall tidak didasarkan pada hukum yang berlaku. Sebagian warga ka- wasan bantaran kanal masih menyimpan bukti kepemilikan tanah mereka meskipun sebagiannya lagi hanya berupa cerita yang diyakini oleh kalangan mereka sendiri.
“AKKKAAHH!! UMMMAA II…UUU…” teriak Semar setengah mati sambil menunjuk-nunjuk alat-alat berat itu. Mereka bergegas bergabung dengan seluruh warga untuk mempertahankan tempat tinggal. Aksi saling dorong terjadi. Hempasan pentungan ditahan dengan tak sebandingnya kekuatan lengan. Melihat robohnya rumah satu persatu, kumpulan rakyat jelata ini menangis tersedu pun histeris. Namun alat berat itu tak mau ambil pusing, terus menyisir sepanjang kawasan. nun kejauhan sana, dua pria klimis bersandar di badan mobil mengamati kebrutalan ini sambil bercengkrama, mulai memetakan sesuai gambar rencana.
Semar teringat sesuatu. Ia menarik-narik baju kakaknya yang masih bertahan dengan warga. “II..BBWWAA..AKKAAHH…II… BWAAA…” Semar mencoba mengatakan tapi kebisuannya sejak lahir tak mau kompromi dengan kondisi. Mengetahui maksud Semar, Mahfud berlari menuju rumah. Pikirannya kacau membayangkan keselamatan ibunya. Ia cemas sungguh, karena rumah Nyong sementara ini sedang di hancurkan dan rumahnya pasti telah ambruk duluan. Apalagi ibunya terkena stroke yang melumpuhkan sekujur tubuhnya. Oh tidak! Tapi ia segera membuang jauh pikiran itu. Dibongkarnya puing-puing kayu berserakan. Dibongkar sana sini, ibunya belum nampak. Kain batik yang selalu dipakai sang bunda, mengin- gatkannya seketika. Berkat itu, akhirnya ia temukan juga ibunya. Meski dalam keadaan tak bernyawa lagi. Ia tertimpa beberapa tonggak rumah yang besar, tentunya setelah terjerambab ke tanah karena semua rumah di kawasan itu bermodelkan rumah pang- gung ala kadarnya.
“BU!! IBU!! BANGUUUN BU!!! IBU….” Mahfud mengguncang-guncang Ibunya. Ambu si Nyong datang menghampiri. Dengan isak tangis yang masih bersisa, Ia memeluk Semar yang sudah dianggap anak sendiri. Ia sangat menyayangi Semar yang malang. Semar yang ternyata hanyalah bayi temuan, tergeletak di TPS sekitar tempat praktek dr. Hansen di sudut gang beberapa tahun lalu.
”Ambu tidak sempat menyelamatkan Ibumu nak. Ambu juga panik. Tadi petugas sempat menggeledah ke setiap rumah untuk memastikan tak ada orang lagi. Tapi Ibumu mungkin tak terlihat petugas…” Si Ambu terisak lagi. Semar yang masih 8 tahun itu mematung, tak sanggup. Nyong, Ranto, Nina dan Umminya menghampiri Mahfud. Ummi Nina meringis kala melihat tubuh ibu Mahfud yang sudah kaku. Nyong dan Ranto menahan pilu sementara Nina cuma terbengong tak tahu apa yang sedang terjadi.
Warga masih tetap bertahan hingga penggusuran selesai. Dengan langkah gontai, mereka mulai mengambil barang-barang yang masih layak pakai sembari membangun sedikit naungan untuk ditinggali sementara. Keesokan harinya, berkat bantuan warga setempat, jasad ibu Mahfud akhirnya dikebumikan. Tak ada tahlilan, yasinan apalagi ucapan belasungkawa dari anggota dewan. Hanya mengkafani, memandikan itupun dengan air tangki yang harganya seribu lima ratus seember. Sebab tak mungkin memandikan mayat dengan air kanal yang berwarna coklat kopi susu itu. Bahkan, sebilah kayu jati bekas reruntuhan rumah terpaksa dijadikan nisan.
***
Satu-persatu pelayat pamit pulang. Begitu juga Ranto, anak dan istrinya. Kumbang badak pun ikutan pamit dari pemakaman sambil memapah sang laba-laba yang masih belum sembuh. Di tengah lokasi pembuangan akhir, pas disamping makam ibu-nya, hujan menyirami kedua anak malang yang masih tergugu itu. Nyong tak kuasa, wajahnya menengadah ke langit menghela nafas, meyakini sepenuh jiwa bahwa tarian kematian sedang menggiring jasad kapital- isme menuju lubang kematiannya pula. Hujan semakin deras mengguyuri mereka yang sampai saat ini masih bingung hendak berteduh kemana… [] (Source : https://youngfaith.net/2015/12/100-persen-bohong/)

Post a Comment
Post a Comment